RSS

The Seas Of Sindbad

15 Jan

Aku pergi ke Basra dengan sekelompok Saudagar dan pengikutnya, dan kami memasang layar, menyiapkan kapal untuk bepergian ke lautan, dan pada pelayaran pertama ini aku mabuk laut karena guncangan ombak dan pergerakan bejana dalam kapal, tetapi kemudian aku terbiasa dengan suasana seperti itu dan berlayar hampir ke semua pulau, menjual dan membeli barang-barang. (Cerita Sindbad sang Pelaut, 1001 malam)

The Bahr Al-Hindi, “the sea of India” atau the Bahr Al-sin, “the sea of china” yang sering disebut dengan Lautan India bukanlah satu-satunya kesatuan lautan yang pernah ada. Mereka yang pernah mengarunginya mengatakan bahwa Lautan India terdiri dari 7 lautan yang berbeda, masing-masing mempunyai karakteristik tertentu. Pembagian tradisional dimana kita menemukan istilah “mengarungi 7 lautan yang ada”. Al Yaqubi yang meninggal pada tahun 897 mendeskripsikannya (berdasarkan cerita dari mulut ke mulut ) sebagai berikut :

Siapa saja yang ingin pergi ke china, harus mengarungi 7 lautan yang masing-masing mempunyai warna angin, ikan dan udara masing-masing. Yang pertama adalah “the sea of Fars”, which men sail setting out from siraf. Lautan ini berakhir di Ras’ Al Jumha, sebuah selat dimana mutiara bisa di pancing. Laut yang kedua dimulai dari Ras’ Al Jumha yang disebut dengan Larwi. Ini merupakan Lautan yang Besar dan ditengah-tengahnya terdapat Pulau Waq-Waq dan lainnya yang merupakan kepunyaan The Zanj. Pulau ini mempunyai Raja. Lautan ini hanya bisa dilalui dengan bantuan bintang dan mengandung banyak Ikan Besar dan terdapat banyak hal yang tidak bisa dideskripsikan. Lautan ketiga disebut dengan Harkand. Dan disana terdapat pulau Sarandib yang mengandung banyak Batuan Berharga dan Ruby. Pulau ini juga memiliki seorang Raja dan disana banyak tumbuh Bambu dan Rotan. Lautan yang keempat dikenal dengan nama Kalah-Bar. Lautan yang dangkal tetapi dipenuhi oleh ular-ular besar. Kadang-kadang mereka menghancurkan kapal. Disana terdapat pulau yang banyak ditumbuhi Champhor. Lautan yang kelima adalah Salahit dan merupakan lautan yang sangat luas dan dipenuhi oleh banyak keanehan. Lautan yang keenam adalah Kardanj. Daerah yang paling sering hujan. Laut yang ketujuh dikenal degan “the sea of Sanji” atau Kanjli. Inilah laut China.

Nama dari 7 laut ini didapatkan dari bahasa orang-orang yang hidup di pesisir pantai itu. Nama ini dijaga dengan sangat baik. Perbedaan bahasa dan latar belakang kebudayaan dari para pelaut yang mengarungi lautan itu tetap tidak mempengaruhi nama-nama itu. Dan nama-nama itu menjadi sangat eksotis bagi bangsa arab pada abad ke 9 dan ke 10. Itulah lautan yang dilalui Sindbad dalam cerita 1001 malam. Cerita tentang seorang Pelaut yang mengarungi Ketujuh Lautan itu pada abad ke 9 atau ke 10. Dan gambaran tentang lautan yang mysterious dan dangerous itu diperlihatkan dengan sangat jelas dalam cerita 1001 malam. Buku kecil karya Buzurgh ibn Syahriyar , “Ajaib Al Hind “( The Wonders of India) yang ditulis pada abad ke 10 adalah inti sari dari cerita petualangan seorang Pelaut yang dianggap sama dengan cerita the Adventure of Sindbad.

Documen paling penting yang masih ada sampai sekarang tentang perdagangan internasional pada abad ke 9 adalah sebuah laporan singkat dari Ibnu Khurradadbhih, seorang direktur pelayanan surat pemerintah di Baghdad yang dikenal dengan nama Kitab Al Masalik wal Mamalik (Books of Roads and Kingdoms). Buku itu menceritakan tentang rute Laut dan Darat yang menghubungkan Dinasty Abbasiyah dan Dunia. Termasuk penjelasan tentang rute Laut ke India, Malaya, Indonesia dan China. Yang lebih menarik lagi, Laporan Ibnu Khurradadbih ini juga menjelaskan tentang rute perdagangan jarak jauh antara Eropa Barat dan China Jauh sebelum era Marco polo.

Salah satu perjalanan menarik yang dijelaskan dalam buku itu adalah tentang sekelompok pedagang Internasional Yahudi yang disebut dengan nama Radhaniyya yang berasal dari “ land of the Franks ”, Dinasty Carolingian. Nama mereka itu kemungkinan berasal dari nama sebuah sungai dalam bahasa latin yaitu sungai Rhone. Dan pelabuhan asal mereka kemungkinan adalah Venice. Disebutkan :

Pedagang-pedagang ini bisa menggunakan bahasa Arab, Persia, Yunani, Latin, Frankish, Spanish dan Slavics. Mereka bepergian dari barat ke timur dan dari timur ke barat. Kadang-kadang melalui darat dan kadang-kadang melalui laut. Dari barat mereka membawa Eunuchs, budak wanita, anak laki-laki, kain brokat, berang-berang, marven, bulu binatang dan aneka pedang. Mereka berlayar dari pelabuhan bangsa Franks, di lautan barat (mediterrania) menuju ke Al Farama (on the isthmus of suez). Disana, mereka memindahkan barang dagangannya ke atas unta dan berjalan ke Pelabuhan Laut merah, Qulzum yang berjarak 25 Farsakh. Dari sana mereka berlayar kembali menuju Al Jar dan Jiddah. Lalu kemudian mereka berlayar menuju Sind, India dan China. Dari perjalanannya ke China, mereka membawa Musk, Aloeswood, Camphor, Cinnamon dan produk lainnya dari Timur. Dan mereka kembali lagi ke Qulzum. Dan kemudian ke Farama. Ketika mereka berlayar lagi dari laut Mediterrania, sebagian ada yang menuju ke Constantinopel untuk menjual barang dagangan mereka ke bangsa Yunani, dan yang lainnya menuju ke Ibu Kota Bangsa Franks untuk menjual barang-barang mereka. Kadang-kadang pedagang Yahudi ini berlayar dari daratan bangsa Franks menuju Antioch. Dari sana mereka menuju Al- Jabiyah. 3 hari perjalanan darat. Di sana mereka naik kapal dan menuju sungai Eufrat lalu menuju Baghdad. Kemudian mereka menuju Al Ubulla dari Sungai Tigris. Dari Al Ubulla mereka berlayar kembali menuju Oman, Sind, India dan China.

Dari keempat rute Radhaniyya yang disebutkan diatas, 2 adalah rute darat dan 2 adalah rute laut. Rute ini sama dengan sumber-sumber lainnya.

Tetapi sebagian sarjana ragu-ragu dengan “jaringan Radhaniyya”. Sumber lainnya menyebutkan bahwa umumnya pedagang-pedagang zaman itu melakukan aktivitasnya hanya diseputar wilayahnya saja, sangat jarang melakukan perjalanan jauh. Perdagangan jarak jauh pada saat itu adalah rangkaian dari perjalanan interregional dan bukan perjalanan yang sangat panjang dan berbahaya seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Khurradadbhih. Tapi, kita juga sudah melihat bahwa perdagangan melalui laut zaman dulu dengan bangsa China dilakukan secara langsung. Buku The Wonders of India menceritakan seorang kapten kapal yang berlayar dari Siraf dan melakukan 7 perjalanan ke Canton(China) dan kembali pulang. Semuanya itu terjadi sebelum pertengahan abad ke 10.

Ahli sejarah Baghdad abad ke 10 Al Mas’udi dalam bukunya Muruj Al Dhahab (Meadows of Gold) menjelaskan bagaimana perjalanan langsung Ke China digantikan dengan system dimana para pedagang berhenti dulu pada setengah perjalanannya dan singgah ke Srilangka atau ke Malaya untuk menjual barang bawaannya dari China. Dibuku itu disebutkan :

China menjadi sangat makmur karena keadilan yang diterapkan dalam administrasi Negara. Hal ini terjadi sampai tahun 878. Dari tahun itu sampai saat kita ini (943), sebuah peristiwa besar telah terjadi yang merubah perilaku tersebut dan menjatuhkan raja yang berkuasa. Seorang pemberontak yang bernama Huang Chao menguasai daerah-daerah pertanian subur dan mendirikan pusat pemberontakannya di dekat Canton, sebuah daerah penting yang terletak didekat sungai besar dan lebih berpengaruh dibandingkan sungai tigris. Sungai ini mengalir ke Laut China, 6 atau 7 hari perjalanan dari Canton. Kapal dari Siraf, Oman dan Basra dan dari kerajaan lainnya berlayar menuju kesana dengan membawa berbagai macam barang dagangan. Huang Chao mengepung Canton dan Membabat Hutan Bulberry yang tumbuh disekeliling Canton yang merupakan makanan ulat sutera yang menghasilkan sutera yang kemudian dieksport ke wilayah-wilayah Islam. Produksi dan Eksport Sutera terhenti. Dia berhasil menguasai Canton dan membantai 200.000 Muslim, Kristen, Yahudi dan Mazdeans. Hasil perhitungan ini tidak dapat dibuat kecuali karena kebiasaan Kaisar China yang menjaga daftar Sensus terhadap penduduknya dan Negara-negara tetangga serta Negara-negara dibawah kekuasaannya. Mereka punya pekerja yang mencatat sensus penduduk untuk mengetahui perkembangan terakhir penduduknya.

Semua laporan Al Masudi diatas telah dikonfirmasi kebenarannya berdasarkan rekaman sejarah China (mungkin saja jumlah korban terlalu dilebih-lebihkan). Hal ini jelas menunjukkan arti pentingnya Canton bagi perdagangan Internasional pada saat itu. Adanya pedagang Yahudi yang terbunuh merupakan bukti kebenaran Laporan Ibnu Khurradadhbih tentang Radhaniyya.

Hasil dari penguasaan Huang Choa terhadap Canton dan ketidakpastian Politik di bagian selatan China karena pemberontakannya menyebabkan berubahnya pola perdagangan di daerah itu. Berdasarkan informasi dari Al Masudi yang diceritakan kepadanya oleh Abu Zaid seorang informant menyebutkan :

Pada hari ini kota Kalah ( Malaya ) menjadi terminal pemberhentian dari kapal-kapal dagang muslim dari Siraf dan Oman. Disinilah mereka bertemu dengan kapal-kapal dagang dari China. Tetapi hal ini tidak pernah terjadi pada masa lampau. Dulunya, kapal-kapal dari China berlayar langsung ke Oman, Siraf, pesisir pantai Persia dan Bahrain, Al Ubulla dan Basra dan begitu juga sebaliknya kapal-kapal dari daerah itu berlayar langsung menuju China. Hal ini terjadi semenjak tidak adanya lagi kepercayaan terhadap keadilan dan kebaikan hati pemerintah akibat pemberontakan seperti yang telah dijelaskan diatas.

Pola perdagangan Laut Zaman Dahulu kini bisa kita petakan. Pertama dimulai dari Siraf kemudian menuju pelabuhan-pelabuhan di teluk Persia dan Arabia dan berakhir di Hormuz. Orang-orang yang berbicara dengan menggunakan bahasa melayu yaitu bangsa Malaya dan kepulauan Indonesia menjadi tempat persinggahan antara dunia Islam dan China. Dimana “Kalah” dan pelabuhan lainnya menjadi nuclei of local dynasties yang pada saat itu menjadi Muslim. Sebelah timur Selat Malaca dikuasai dan dipenuhi oleh kapal-kapal dagang bangsa China. Kapal-kapal dari India pada saat itu juga memainkan peranan yang penting. Kapal-kapal dari Gujarat, Malabar dan Bengal melayari perairan lautan India. Tetapi pada saat itu pelayaran antara China dan teluk Arab telah berakhir.

System ini bertahan sampai sekitar 5 abad sebelum datang bangsa Portugis. Walaupun system ini bermula dari tidak Stabilnya kondisi Politik di China, tetapi banyak factor lain yang juga ikut berpengaruh. Salah satunya karena waktu yang dibutuhkan menjadi lebih singkat dan bahaya menjadi lebih sedikit.

Sumber : www.saudiaramcoworld.com

Diterjemahkan oleh : ridha adhari

 
1 Comment

Posted by on January 15, 2009 in Uncategorized

 

Tags:

One response to “The Seas Of Sindbad

  1. SoycleSek

    December 12, 2009 at 4:16 pm

    Awesome, I didn’t heard about that up to now. Thanks.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: