RSS

Semangat Para Pemetik Teh

25 Dec

Apa yang sedang kita kerjakan jam 5 pagi? Sudahkah kita berpindah dari tempat tidur kita? Ataukah kita masih asyik bermimpi indah? Atau mungkin kita bisa mengganti pertanyaannya , jam berapakah kita bangun di pagi hari? Sepertinya itulah pertanyaan yang paling menarik untuk dijawab karena bangun pagi adalah aktivitas pertama yang kita lakukan setelah istirahat dari bekerja seharian.

Berbicara mengenai bangun pagi, ada yang ingin saya ceritakan terkait dengan peristiwa yang langsung saya alami sendiri. Kejadiannya terjadi pada tanggal 20 desember 2008. Waktu itu saya dan teman-teman sedang melakukan outbond di daerah sekitar Lembang tepatnya di seputaran desa Sukawana. Saya tidak tahu persis apakah daerah itu masih termasuk wilayah Bandung atau tidak.

Kami berangkat dari “pos” sekitar jam 6.30 sore, setelah selesai shalat magrib. Kami berangkat Jumat sore 19 des 2008 dan pulang tanggal 21 des 2008. kami sampai di tujuan (desa Sukawana) sekitar jam 8.00 malam. Sebenarnya tujuan yang kami tuju tidak terlalu jauh dari tempat keberangkatan, hanya karena jalanan yang macet dan kondisi jalan di seputaran desa Sukawana yang berbatu-batu akhirnya menghambat perjalanan kami.

Sesampainya disana, kamipun langsung menjalankan acara yang telah kami susun sebelumnya. Acara malam itu berakhir sekitar jam 12.00 malam dan setelah itu, berhubung besok paginya juga masih ada acara lagi, kamipun istirahat total.

Subuhnya saya dan beberapa teman terbangun sekitar jam 5.00, karena di gunung tempat kami “menginap” tidak ada sumber air, akhirnya kamipun turun ke pemukiman penduduk desa Sukawana. Daerah ini adalah daerah perkebunan teh milik PTPN yang luasnya puluhan hektar. Disepanjang jalan menuju camp kami terlihat banyaknya teh hijau yang siap petik. Pemandangan yang menyehatkan mata dan menyegarkan pikiran. Sungguh sangat indah. Ditambah lagi dengan udara murni pegunungan yang belum tercemar polusi akibat ulah manusia. Benar-benar daerah impian saya.

Karena belum shalat shubuh dan hasrat ingin membuang hajat yang semakin menggebu-gebu, kamipun langsung menuju mesjid. Tapi karena toilet di masjid terkunci rapat, akhirnya kami beralih ke pabrik pengolahan teh beberapa puluh meter dari mesjid.

Disinilah kekaguman saya terhadap para pemetik teh dimulai. Sama sekali tidak terbayangkan. Jam 5.00 pagi ketika banyak dari kita masih tidur, ternyata para pekerja di pabrik teh itu sudah mulai menghidupkan mesin dan bekerja mengolah teh. Tidak terlihat sedikitpun rasa ngantuk diwajah mereka. Mereka juga tidak seperti sedang menggerutu menghakimi apa yang mereka kerjakan. Malah, wajah-wajah mereka terlihat begitu semangat dan pancaran keikhlasan “bekerja di subuh buta” tercermin dengan jelas disetiap gerakan tangan mereka.

Setelah puas melihat-lihat pabrik dan cara pengolahan teh, akhirnya kami kembali ke camp. Disepanjang perjalanan pulang, kami juga melihat banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang menggendong sebuah keranjang di punggungnya dan pergi menuju kebun teh. Waktu itu masih sekitar jam 6.00 pagi dan sungguh luar biasa, masyarakat di desa itu sudah mulai bekerja. Mereka siap memetik teh. Sebagian dari mereka ada yang menggendong alat penyemprot teh. Katanya sih, teh yang ada disitu merupakan teh eksport, jadi harus terus disemprot agar hasilnya bagus. Perawatannya harus maksimal agar harganya juga tinggi.

Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Semangat yang mereka perlihatkan pada hari itu sungguh sangat jarang bisa saya dapatkan ditempat lain. Bangun shubuh, tanpa membuang-buang waktu mereka langsung bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga mereka. Lalu mengapa mereka bisa seperti itu? Apakah karena sudah menjadi kebiasaan mereka? Ataukah karena terinspirasi iklan “kalau bangun kesiangan, rezeki bisa di patok ayam” ? saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas semangat bekerja mereka pantas kita contoh dan kita apresiasikan.

sepertinya cerita ini kurang “manis” tanpa comment anda. kasih comment yang banyak ya..

 
1 Comment

Posted by on December 25, 2008 in Uncategorized

 

Tags:

One response to “Semangat Para Pemetik Teh

  1. wen

    January 13, 2009 at 9:29 am

    Saya sebut ini adalah efek “FROM A DISTANCE” , melihat sesuatu dalam jangka waktu tertentu dan dalam jarak tertentu bisa menghasilkan suatu perspektif baru, atau suatu inspirasi baru, meskipun apa yang anda rasakan belum tentu dirasakan oleh para pemetik teh…..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: