RSS

Hidup Ini Memang Aneh

22 Dec

Maksud hati hanya sekedar berolah raga mengencangkan kembali otot-otot yang sudah kendor, tahunya malah ditawari menjadi pelatih Bola Volley. Hidup Memang sungguh tidak bisa ditebak. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tidak tahu korelasi dengan apa yang telah terjadi dan tidak sadar kalau yang sekarang kita lakukan bisa saja efeknya 5-10 tahun yang akan datang.

Setidaknya itulah yang terjadi pada saya. Hari itu jumat siang, saya sedang menunggu si ajay yang katanya on the way. Kami rencananya mau survey ke pasar cikapundung (buat nyari bahan tugas besar Elektronika Geofisika). Tiba-tiba datang Dion dan dia memberitahu saya kalau nanti malam jam 7 ada main bola volley di lapangan C SABUGA. Nah, karena kebetulan saya juga baru selesai ujian, masih stress dan ingin refreshing akhirnya tawaran itupun langsung saya sambut.

Malamnya, sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan. Saya pikir yang main volley Cuma cowok doank, ternyata malah digabung dengan cewek. Katanya sih, yang nyewa lapangan itu cewek, cowok Cuma ikut nebeng aja.

Entah kenapa, malam itu sang pelatih tidak bisa datang dan karena asisten pelatih juga tidak ada akhirnya kami bermain bebas. Ketika bermain bebas inilah saya mencoba mengeluarkan skill-skill yang pernah saya miliki dulu. Betapa senang dan gembiranya hati saya karena malam itu adalah pertama kalinya saya bermain volley setelah hampir 3 tahun istirahat total. Terakhir kali saya main volley itu waktu kelas 3 sma. Dan itu sudah cukup lama. Saya sungguh sangat menikmati permainan malam itu.

Tidak seperti yang saya harapkan, kemampuan bermain volley saya sudah jauh menurun dan tidak lagi seperti dulu. Tapi setidaknya masih ada “sisa-sisa” zaman dahulu yang masih tertinggal.

Beberapa hari setelah malam sabtu itu, ketika kami sedang menunggu dosen di kelas, tiba-tiba fitri datang dan duduk disebelah saya. Tanpa banyak basa-basi, dia selaku manager tim volley cewek TERRA langsung menawarkan kepada saya untuk melatih timnya. Awalnya saya menolak, tapi setelah diyakinkan dengan berbagai alasan, akhirnya tawaran itupun saya terima.

Kalau di ingat-ingat lagi, pertama kali saya bermain volley itu waktu kelas 5 MIN (setingkat dengan SD). Awalnya saya dan teman-teman sepermainan Cuma ikut-ikutan aja. Karena kami sering melihat pemuda-pemuda di desa kami bermain volley, akhirnya kamipun terpesona dan tertarik untuk bermain volley. Kami membuat sendiri lapangan volley “mini” dan bermain dengan menggunakan bola “atom” yang dulu Cuma berharga Rp 4.000,-.

Ketika saya sekolah di Jeumala Amal (setingkat dengan SMP), kemampuan bermain volley saya semakin berkembang. Saya banyak mendapatkan tips dan trik bermain volley dari teman-teman di Jeumala Amal. Tetapi, di sana saya tidak pernah bisa masuk skuad tim inti kelas saya karena selalu kalah saing dengan teman-teman yang lain. Ternyata, hal ini malah menjadi pemicu semangat saya. Saya menjadi lebih sering berlatih dan lebih serius untuk meningkatkan kemampuan saya. Namun, apa hendak dikata, ternyata sampai saya lulus dari Jeumala Amal tetap saja saya tidak pernah sekalipun berkesempatan membela kelas saya. Tapi saya tetap harus bersyukur, berkat persaingan itulah kemampuan bermain volley saya meningkat drastis dibandingkan dengan dulu ketika baru menjadi santri di Jeumala Amal.

Puncak kejayaan karier volley saya sampai saat ini masih ketika saya bersekolah di SMA Modal Bangsa. Saya dan anak-anak Scudetto-X sudah sangat sering menjadi sang juara di sekolah. Tim kami dikenal dengan tim yang penyebaran kekuatannya paling merata. Mulai dari tosser sampai smasher terbaik ada di tim kami. Posisi saya sebagai pemain inti sama sekali tidak tergantikan dan hal ini rupanya sangat berpengaruh terhadap mental bertanding saya. Tapi sayang, kemampuan yang saya miliki ketika di SMA dulu tidak bisa saya pertahankan sampai saat ini. Ketika kelas 3 SMA, saya sudah mulai melupakan untuk bermain volley karena target saya adalah SPMB. Setiap hari yang ada dalam pikiran saya adalah belajar untuk SPMB. Dengan sendirinya bermain volley yang merupakan salah satu hoby saya akhirnya saya tinggalkan. Tetapi pengorbanan itu tidak sia-sia karena saya berhasil lulus SPMB dan diterima di ITB.

 
4 Comments

Posted by on December 22, 2008 in Uncategorized

 

Tags:

4 responses to “Hidup Ini Memang Aneh

  1. vicky

    December 25, 2008 at 5:38 am

    salam kenal mas..dari RB

     
  2. fatarana

    December 23, 2008 at 11:41 am

    ga juga…bukannya kalian yg kalah….hehehe, indahnya masa-masa sma dulu…jadi kepingin sma lagi

     
  3. liza

    December 23, 2008 at 8:57 am

    ya iyalah dha,..tapi kelas kalian masih kalah dengan stevel x kann?

     
  4. ukaitb

    December 22, 2008 at 3:46 am

    ya…anda benar sekali,…emang begitulah hidup ini. yg penting do the best u can!!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: