RSS

Antara Uang dan Budaya

07 Dec

UKA-ITB adalah perkumpulan dari mahasiswa asal Aceh, keturunan Aceh ataupun yang tertarik dengan kebudayaan Aceh di ITB. UKA sendiri merupakan singkatan dari Unit Kebudayaan Aceh dan Keanggotaannya bersifat Nasional. Artinya siapapun dan berasal dari daerah apapun diperbolehkan menjadi anggota asalkan bersedia menjalankan segala Hak dan Kewajibannya.

Sebenarnya banyak kegiatan yang dilakukan UKA-ITB, tetapi ada satu yang menarik untuk dibahas yaitu Menari. Saya akan mencoba mengupas lebih jauh tentang rutinitas yang satu ini.

Setiap anggota UKA, cowok ataupun cewek diharuskan untuk bisa menari. Ada banyak jenis tarian yang dipelajari di UKA. Tarian wajib yang harus di kuasai oleh cowok-cowok UKA adalah Tari Saman. Sedangkan tari Rapai geleng masih dalam tahap pengembangan. Sedangkan untuk cewek-ceweknya, mereka harus bisa menampilkan tari Ratoh Duek dan Rateb Meuseukat. Dua tarian yang tidak kalah hebatnya dengan tari Saman.

Salah satu alasan kenapa semua anggota UKA diharuskan ikut berpartisipasi dalam menari adalah karena jadwal penampilan yang tidak menentu. Jika ada salah satu laskar penari yang berhalangan dan tidak bisa tampil, maka posisi dia bisa digantikan oleh yang lain sehingga tidak ada alasan untuk membatalkan suatu show hanya karena alasan kurang personil. Kecuali kalau memang semuanya berhalangan.

Menari, bagi UKA-ITB bukanlah sekadar mengisi waktu kosong atau hobi, tetapi lebih dari itu. Menari adalah nyawa dari keberlangsungan UKA. Dengan menarilah UKA bisa mendapatkan dana segar untuk menjalankan beragam kegiatannya (UKA sama sekali tidak mengutip iuran wajib dari anggotanya). Menurut pengakuan Sultan/Ketua UKA, sekali tampil UKA bisa mendapatkan dana mulai dari Rp 800.000,00 – Rp 5.000.000,00. Hal ini tergantung kepada hasil negosiasi antara kedua belah pihak. Tetapi sesekali UKA juga tampil tanpa mendapatkan imbalan berupa uang tunai. Bahkan kadang juga total free.

Penampilan UKA sudah dikenal luas oleh masyarakat. Tidak hanya di Bandung bahkan sampai ke Jakartapun UKA sudah pernah nampil membawakan tariannya. Banyak pihak di Jakarta yang kerap kali menghubungi UKA untuk membahas tentang penampilan nari. Ada juga pihak yang secara khusus meminta untuk diajari tarian Aceh. Pihak UKA sendiri selalu siap sedia dan dengan senang hati melayani setiap “konsumen”.

Ibarat pepatah sambil menyulam minum air. Itulah yang saya lihat terjadi di UKA. Pada dasarnya, UKA menjadikan Tarian sebagai “ladang uang” untuk menjalankan kegiatannya. Namun, secara tidak langsung, mereka juga ikut serta dalam menjaga warisan nenek moyangnya. Warisan yang tak ternilai harganya dan sudah bertahan puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Dengan adanya system pengkaderan yang terencana dengan baik, bisa dipastikan budaya menari di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam UKA akan terus berlanjut dan warisan endatu akan tetap terjaga.

FALSAFAH TARIAN ACEH

Sebelumnya, saya tidak pernah terpikir kalau tari-tarian Aceh itu berbeda dengan tari-tarian daerah lainnya di Indonesia bahkan di Dunia. Baru ketika saya berada di ITB dan setelah menyaksikan penampilan tarian hampir dari seantero Indonesia dalan acara OHU(open house unit) saya baru sadar dan baru mengerti kenapa Aceh sangat erat hubungannya dengan Islam.

Para endatu atawa nenek moyang bangsa Aceh tentu tidak asal-asalan dalam menciptakan tari -tarian. Jika kita perhatikan dengan seksama, tidak ada satupun tari-tarian Aceh yang tidak bernafaskan Islam. Coba perhatikan lirik syair tari rapai geleng, saman, rateeb meuseukat dll semuanya itu mengandung nasehat dan pedoman hidup manusia di dunia dan akhirat yang sesuai dengan Alquran dan Alhadits. Contohnya saja lirik tari ratoh duek “watee lam donya mangat that ta eh,bantai meutindeeh ngen ija sutra, oh watee matee gata gob peu eh, tanoh geutindeh meugunca-gunca”. Bait syair tadi membandingkan antara kehidupan didunia yang sangat mewah dan menyenangkan (diibaratkan dengan  tidur beralaskan sutera) dengan kehidupan di alam barzah yang hanya ditemani tanah.

Sedangkan tari-tarian dari daerah lainnya kebanyakan menceritakan dongeng-dongeng zaman dulu ataupun kisah fiktif lainnya. Bahkan ada tarian yang khusus untuk ”memanggil” arwah leluhur. Dan itu jauh berbeda dengan ciri khas tarian Aceh. Hal ini karena ulama Aceh zaman dulu sengaja menjadikan tarian sebagai media dalam menyampaikan dakwahnya karena dinilai lebih efektif selain juga bisa menghibur.

Disamping itu, ciri khas tarian aceh lainnya adalah kedinamisannya. Gerakannya yang lincah, perlu kekompakan serta diiringi dengan gerakan tepuk tangan yang dikombinasikan dengan memukul dada dan paha dan gerakannya yang berpasangan semakin menambah keindahannya dan mengundang decak kagum para penonton. Satu lagi, umumnya tarian aceh tidak banyak menggunakan alat music pengiring. Cukup dengan rapai “and the show begins”.

 
3 Comments

Posted by on December 7, 2008 in Uncategorized

 

Tags:

3 responses to “Antara Uang dan Budaya

  1. site

    May 27, 2012 at 5:02 pm

    Strange , your posting shows up with a black color to it, what color is the primary color on your webpage?

     
  2. Blackjack

    February 10, 2011 at 11:43 pm

    This website online is known as a stroll-by means of for all of the information you wished about this and didn’t know who to ask. Glimpse here, and also you’ll definitely discover it.

     
  3. Aulia

    December 11, 2008 at 1:13 pm

    UKA-ITB mantap….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: